Makam Kuno Dayah Kruet 3: Bukti Sejarah yang Perlu Dilestarikan

Budayapijay.or.id - Situs makam kuno Dayah Kruet 3 berada di dalam pekarangan kantor desa Dayah Kruet Kecamatan Meurah Dua Kabupaten Pidie Jaya. Pada lokasi ini ditemukan dua buah batu nisan dan posisinya tidak lagi in-situ. Nisan kepala telah patah dan tidak lengkap lagi. Saat ditemukan yang terlihat hanya bagian puncak, setelah diangkat ke permukaan diketahui bahwa nisan ini telah berpindah posisi. Kondisi ini jelas memberikan informasi bahwa posisinya ini bukan sebagai penanda kepala sebuah makam.


Berdasarkan kondisi saat ditemukan jelas menampilkan bahwa posisi kedua nisan ini tidak lagi in-situ. Data ini menegaskan bahwa lokasi tersebut bukanlah makam. Kemungkinan besar nisan ini dipindahkan dari lokasi lain dan ditata ulang menyerupai sebuah makam.

Oktagonal atau segi delapan adalah salah satu jenis dalam populasi batu nisan Aceh. Tidak ada isnkripsi pada kedua nisan tipe K di situs ini sehingga angka pasti penggunaan nisan ini belum diketahui. Berdasarkan penelitian terdahulu, nisan jenis ini berasal dari abad ke-18 dan 19 Masehi. Antara tokoh penting yang menggunakannya adalah raja-raja Aceh berdarah Bugis yang dimakamkam di dalam komplek museum negeri Aceh (Juliani 2018). Sultan dan bangsawan Aceh pada abad tersebut juga menggunakan batu nisan yang sama (Satria 1998). Maka dari itu dapat dipastikan bahwa batu nisan tipe K di situs ini mewakili suatu masa di abad ke-18 atau 19 Masehi.

Ornamen hanya terdapat pada badan bagian bawah dengan motif kelopak bunga yang dipadukan dengan motif jala, sementara puncak nisan dipahat motif kelopak teratai. Teratai merupakan simbol kesucian yang sering digunakan dalam masyrakat di Nusantara pada masa lampau (Yatim 1988). Tidak ada petunjuk khusus yang merepresentasikan biografi pemilik nisan ini sehingga sulit untuk menentukan hipotesis tepat sasaran. Namun, nisan dengan bentuk yang sama ini pernah digunakan oleh beberapa golongan di kesultanan Aceh abad ke-18 dan 19 Masehi. Antaranya adalah golongan ulama, bangsawan serta beberapa kelompok lainnya (Ambary 1998, Yatim 1988).

Sudut pandang lain yang perlu diperhatikan dari keberadaan batu nisan ini adalah jumlahnya yang sangat terbatas di Pidie Jaya. Nisan ini penting untuk diselamatkan agar bukti eksistensi Meureudu di abad ke-18 dan 19 Masehi dapat terjaga dengan baik.


Posting Komentar

0 Komentar

advertise

Menu Sponsor

Subscribe Text

Ikuti Channel YouTube Budaya Pijay